The Best
Yeah, it’s been 5 years.
Kalimat pertama ini gua tulis saking nggak tahunya mau nulis apa. Banyak hal yang ingin gua bagi dan ceritakan, cuma bingung aja opening yang pas saking lamanya nggak nge-blog.
I’ve through a lot in this past years. A lot of things, a lot of shit, a lot of changes. Lima tahun ini gua dapat banyak hal, sedikit ilmu, dan satu kesimpulan: Shit may happened, but God just too nice to me.
Semua orang pasti pernah mengalami hal baik dan buruk, yang disangka maupun tidak, dari hal biasa sampai yang berharga. Tapi nggak sedikit yang merasa hidupnya penuh dengan kesialan, kegagalan dan kesalahan. ‘Kok gua gini amat ya?’, ‘Enak banget sih jadi dia’ adalah dua dari banyak kalimat keluh yang sering terdengar atau tersirat. ‘Gak semua orang bisa kayak gini nih’, ‘Hebat ya gua’, juga dua kalimat yang mungkin lebih sering terpikir dari pada terucap, karena cenderung arogan.
Mungkin sebelum mengeluh, pikir dulu apa hal pahit yang kita rasa adalah kesalahan orang lain atau memang kita yang kurang introspeksi. Menyalahkan keadaan sementara usaha yang belum seberapa. Juga sebelum bangga dan self proclaim atas sesuatu yang kita capai, apa benar keberhasilan itu murni usaha sendiri. Apa pantas kita dapat hasil tersebut dibanding dengan usaha yang, lagi-lagi mungkin belum seberapa.
Human being.
Nggak jarang kita melihat/ merasa, ‘Hoki amat gua ya’, atau ‘Apes amat tuh orang’, sampai ‘Kok bisa kayak gitu sih?‘ Sadar atau enggak, dititik itu kita menyaksikan usaha yang tidak sebanding dengan hasil, baik berakhir positif maupun negatif. Hal ini kerap menjadi pembelaan dan psychologic self defense diri kita hingga munculnya quote: Usaha tidak selalu berbanding lurus dengan hasil.
It,s just wrong.
Kenapa? Karena pada dasarnya manusia diciptakan hanya untuk beribadah, dengan kata lain berusaha. Udah. Nggak perlu ngurusin hasil yang diluar kehendak kita. Cukup usaha semaksimal mungkin sesuai aturan norma dan agama, kita pasti dapat hasil yang terbaik. Terbaik bagi Allah, bukan bagi kita.
Maksudnya?
Secara umum manusia menentukan pilihan berdasarkan apa yang menurutnya terbaik dan dalam kapasitasnya. The problem is people might under/overestimate themselves, makanya kita membuat pilihan yang masuk akal, lalu dimulailah suatu usaha. Dari situ kita berharap hasil yang sesuai atau setidaknya dapat diterima sebanding dengan usahanya. Kalau enggak? Biasanya kita mencari dimana yang keliru, apa yang luput, sampai siapa yang salah. Justru disitulah letak kesalahan manusia.
Nggak, nggak ada yang salah.
Selama tetap berusaha, kita akan mendapat hasil yang sebanding. Masalahnya manusia kadang lupa kalau bukan kitalah yang menilai, memberi dan menentukan hasilnya, tapi Allah. Hasil dari-Nya pasti sesuai. Kalau kita berusaha yang terbaik, hasilnya pun terbaik. Terbaik menurut Allah, bukan kita. Karena yang terbaik bagi kita belum tentu terbaik bagi-Nya, tapi yang terbaik bagi Allah, pasti terbaik untuk kita.
Bagaimana caranya kita tahu usaha sudah maksimal?
Usaha maksimal adalah ketika kita sudah tidak bisa berbuat apapun selain berdoa. Dalam doa selalu ada harapan akan hasil yang diinginkan, sampai tahap kita berhenti berharap lalu kita akan pasrah. Pasrah akan hasil, pasrah akan yang diberikan dan yang tidak, serta yakin bahwa yang kita terima adalah yang terbaik. Saat itulah usaha sudah mencapai batas akhir, disaat kita sudah melakukan semuanya dan tidak lagi mengharapkan hasil.
Usaha juga bukannya tanpa syarat. Bukan usaha namanya kalau mencari nafkah dengan mengambil yang bukan hak. Bukan juga usaha kalau membahagiakan dengan cara menyakiti. Usaha juga bukan dengan memaksakan sesuatu yang bukan kehendak kita. Iya, usaha harus diikuti kejujuran hati akan apa yang diiinginkan, diliputi kebaikan cara memperjuangkan yang kita yakini, dan didasari kepercayaan agama yang selalu dipegang teguh.
Terus, kok ada orang hoki yang nggak sebanding dengan usahanya?
Hoki atau keberuntungan adalah pedang bermata dua. Banyak orang menganggap keberuntungan hadir hanya memberikan kemudahan dalam mencapai tujuan, tidak sedikit yang lupa kalau hal tersebut mungkin memiliki maksud dan tujuan lain. Keberuntungan bisa jadi imbalan atas usaha atau kebaikan yang dulu terlupakan, tidak disengaja, atau bahkan usaha yang justru belum dimulai. Kita tidak pernah tahu kenapa seseorang sangat beruntung, karena dibaliknya pasti Tuhan memiiki alasan tersendiri yang tidak tercerna otak manusia yang mana sebagian besar hanya menilai hasil.
Menurut gua pribadi, keberuntungan dibagi menjadi empat:
1.) Hasil yang diberikan sebelum usaha dilakukan/setelah usaha yang terlupakan di masa lalu
Terkait dengan uraian diatas, tipe ini biasanya disadari oleh manusia, tapi bukan mustahil kita lupa dan kurang bersyukur hingga Tuhan mengambil lagi kemudahan itu. Hal ini berkaitan dengan poin kedua.
2.) Ujian
Tidak selalu kemudahan, kenikmatan dan kebahagian adalah berkah, bisa jadi itu ujian. Kemudahan yang kita dapat bermaksud menguji seberapa bersyukur kita dan, sekali lagi tidak self proclaim atas pencapaian tersebut, atau Tuhan lagi-lagi akan mengambilnya kembali.
3.) istidraj
Adalah kemudahan kepada manusia yang justru jauh dari-Nya. Hal ini berbentuk nikmat yang sebenarnya adalah azab. Tanpa disadari manusia seperti ini akan terlena dalam kenikmatan semu yang berujung kesengsaraan.
4.) Hadiah
Bukan nggak mungkin semua kemudahan dan hasil terbaik yang kita dapat merupakan hadiah dari-Nya. Tanpa alasan, karena Dia suka aja. Kayak gimana sih manusia kalau lagi jatuh cinta? Ya, He’ll do that too, in much better way. Namun hanya segelintir orang yang sudah mencapai ini dan segelintir pula yang menyadarinya. Nggak harus jadi imam, sufi, dan ahli agama, some people He love doesn’t even know that they are. Tidak sedikit orang seperti ini malah dianggap biasa saja. Not even close to a saint, some still do obvious shit yet He still love them.
Kok nggak adil, masih sering buat salah malah dikasih hadiah
Manusia itu, pasti salah. Pembedanya adalah siapa yang berbuat salah. Apa sih yang kita lakukan ketika pasangan berbuat sesuatu yang, kalau dilakukan orang lain akan buat kita jengkel? Memaafkan, memaklumi sampai malah balik menyukai hal tersebut. And ya, He’ll do that too. Itulah yang disebut jalan yang lurus. Shiratal Mustaqim bukanlah jalan yang selalu lurus, tapi jalan yang dianggap lurus. Sekali lagi, manusia tempatnya salah, makanya dalam shalat kita selalu minta ditunjukkan jalan yang lurus, bukan yang benar. Kenapa? Karena kebenaran hanya milik Allah. Yang sebenarnya kita inginkan adalah jalan berliku pun dianggap lurus oleh Allah yang maha benar. Hal yang sama jika dilakukan individu berbeda bisa mendapat penilaian berbeda pula.
Apa yang penjaga warteg katakan ketika artis cantik makan di tempatnya? “Udah artis humble pula, salut deh,”. Tapi ketika kuli bangunan yang datang? “Elah, paling ngutang lagi”.
Still, human being.
Sebesar apapun cinta kita terhadap pasangan, adakalanya kesalahan dibuat berulang hingga semakin tak termaafkan. Saat itulah kita mulai menegur, memarahi sampai memutuskan berhenti mencintai. But no, He’ll never do that. Kenapa? Karena Allah tahu siapa yang Dia cinta.
Allah bukan manusia. Kita kadang tidak tahu kalau sedang mencintai orang yang salah, tapi tidak dengan-Nya. Allah maha tahu, dan tidak pernah salah. Dia tidak memberi jalan yang lurus pada orang yang suatu saat akan berbelok terlalu jauh hingga semua jalan dianggapnya lurus. Karena inilah Dia tidak akan salah mencintai yang dia kehendaki.
Terus, gimana caranya dicintai Tuhan?
Teorinya give and take. Manusia pasti ingin dicintai pasangannya dalam kondisi apapun, makanya kita memperlakukannya sebagaimana kita ingin diperlakukan: mencintai untuk dicintai. Lakukan yang dia suka dan hindari yang sebaliknya, beri pujian dan terus berterima kasih atas kebaikan dan kehadirannya, selalu meminta maaf dan hindari mengulangi kesalahan, karena jika dia memang mencintai kita, pintu maaf bukanlah hal yang sulit dan jika kita memang mencintainya, tidak mengulangi kesalahan pun bukanlah hal yang sulit.
Just do the exact same thing. Cintai Dia sebesar kita ingin dicintai. Namun jangan keliru dan menyamakan cara kita mencinta, karena manusia dan Tuhan tidaklah sama, obviously. Bedakan besar cinta yang kita berikan kepada pasangan dengan-Nya. If u can give them 10, give Him 100. Yup, nomor satukan Allah dan Dia pun akan menomorsatukan kita, hanya tunduklah pada Allah maka akan Dia buat alam semesta tunduk pada kita.
But that’s just a theory
Karena pada prakteknya gua belum sampai sana, yang gua sampaikan hanya analogi dasar. Sama seperti cara unik tiap orang dalam mencintai pasangannya, cara mencintai-Nya pun berbeda tergantung keyakinan dan kemampuan masing-masing. Tapi cara paling umum yang seharusnya bisa dilakukan semua orang adalah dengan mencintai orang tua. Kenapa? Karena ridha Allah, adalah ridha orang tua.
Bukannya semua orang pasti cinta orang tuanya?
Secara garis besar, iya. Cinta kepada orang tua adalah fitrah manusia dari lahir. Namun tidak jarang rasa itu bergeser baik cara maupun bentuk cinta itu sendiri, seiring berjalannya kehidupan dan masalah yang kita lalui. Fase-fase itu menyebabkan adanya perpindahan objek yang kita cinta dari orang tua menjadi lawan jenis, sahabat, bahkan kesibukan yang kita senangi. Perselisihan juga kerap menjadi penyebab berkurangnya rasa cinta, terlepas hal itu kesalahan kita atau mereka.
Bukan cuma manusia, orang tua juga memiliki fitrahnya sendiri. Sesering apapun anaknya membangkang, sesakit apapun hati orang tua, dan sebrengsek apapun kita, orang tua pasti meridhai anaknya. Maka jangan heran kalau kita tidak merasa dicintai oleh-Nya tapi sering diberi hadiah, yang sebenarnya bukan untuk kita melainkan untuk orang tua yang mendoakan kita.
Yang harus kita ingat adalah, orang tua juga manusia. Bukan berarti dengan memiliki fitrah tersebut kita jadi seenaknya karena meskipun orang tua ridha, belum tentu hal itu yang sebenarnya mereka inginkan. Bisa jadi mereka meridhai kita karena hanya ingin membuat anaknya senang. Selama ini, tidak jarang jalan yang kita pilih bersinggungan dengan keinginan orang tua yang merasa pilihannya lebih baik, tentunya karena pengalaman lebih banyak dan referensi lebih lengkap. Guna menghindari hal itu, turuti dan lakukan apapun kemauan orang tua selama pilihan itu baik, karena meskipun tidak sesuai dengan yang kita mau at least kita sedikit membahagiakan mereka setelah selama ini mereka banyak mengorbankan kebahagiaannya demi kita. Hal inilah yang harus dibenahi sampai titik dimana orang tua tidak lagi memberikan pilihan dan meridhai sepenuhnya, karena ridha yang sebenarnya adalah kecintaan orang tua yang sempurna sehingga apapun yang kita pilih adalah pilihan mereka.
Tapi sekali lagi, orang tua juga manusia, dan pasti salah. Adakalanya mereka keliru disaat kita tahu kebenarannya dan disitulah kita bisa mengingatkan, bukan menggurui. Untuk itulah manusia diberi akal untuk berpikir dan logika untuk bernalar, agar bisa memberi saran sesuai porsi sebagai anak sambil tetap menurunkan ego dan menghindari argumen. Karena meskipun ridha Allah adalah ridha orang tua, orang tua bukanlah Allah. Tidak selalu keridhaan orang tua membuat kita diridhai-Nya, dan bisa jadi Dia meridhai kita disaat orang tua tidak. Karena Allah maha benar, tidak dengan orang tua. Maka tetaplah mendoakan mereka agar juga diridhai Allah. Karena bukan hanya ridha orang tua, doa anak yang shaleh pun bisa menjadi alasan Dia memberikan hadiah.
All in all, ujung-ujungnya kita harus mengembalikan lagi dan tetap meminta ridha kepada-Nya. Karena seperti janji Allah, ‘Berdoalah padaku, maka akan kukabulkan.’
Nggak juga kok, banyak doa yang nggak dikabul, kalau semua dikasih nggak ada orang susah dong?
Memang nggak ada orang susah, adanya yang kurang bersyukur aja. Susah senang itu persepsi. Pada umumnya, manusia menggunakan kekayaan materi sebagai parameter kebahagiaan. Jika benar, kenapa masih banyak pelaku korupsi disaat hartanya yang ada pun belum tentu habis? Lalu apa alasan anak jalanan tertawa lepas tanpa beban disaat belum tahu besok makan apa? Nggak, nggak ada yang tahu alasan mereka karena parameter tiap orang berbeda, tinggal bagaimana kita menjalani hidup tanpa penyesalan sambil mencintai diri sendiri. Sebagian orang merasa cara bersyukur paling mudah adalah membandingkan dengan orang yang lebih susah, that’s what I totally disagree.
Selama masih sering membandingkan, berandai-andai apalagi mengeluh, kita masih jauh dari rasa bersyukur. Cara paling mudah untuk bersyukur bukanlah membandingkan dengan orang lain, tapi membandingkan dengan diri sendiri ketika dulu pernah merasa susah. Sampai tahap kita tidak memerlukan pembanding dan tetap bersyukur tanpa disadari, disitulah kita sudah bahagia. Allah itu maha pengasih, dan penyayang, just have faith in it. Cukup dengan bersyukur, nikmat kita ditambah. Berdoa, maka akan digandakan. Apalagi ditambah usaha?
Banyak juga yang merasa doanya enggak dikabul atau tidak sesuai harapan. But again He said, ‘Berdoalah padaku, maka akan ku kabulkan.’ Jadi kalau enggak? Mungkin kita nggak sadar kalau sudah terkabul, memang belum dikabul, atau mungkin kita yang salah berdoa.
Kok bisa salah berdoa?
Berdoalah sesuai kapasitas, minta sesuatu yang masuk akal sesuai dengan hak kita. Doa bukanlah jalan pintas menuju kesuksesan, bukan alat mempermudah keinginan, juga bukan cara mengakali kehidupan, karena doa sendiri adalah usaha. Berdoa juga tidak bisa asal, ada cara, syarat, juga prosedurnya.
Apa alasan paling mainstream ketika kita minta naik gaji? Kinerja baik dalam kurun waktu yang dirasa cukup. Alasan yang kemudian dievaluasi atasan sebagai bahan pertimbangan termasuk attitude kita. Permohonan pun kita utarakan sebaik dan sesopan mungkin agar atasan senang cenderung iba.
Begitu juga dengan doa, jangan asal meminta yang bukan hak, apalagi sebelum kewajiban terpenuhi. Untuk itulah manusia perlu mengenal jati dirinya agar tidak salah dalam menilai haknya. Gunakan kalimat yang halus dan lembut tanpa ada maksud memerintah, karena meminta dan menyuruh adalah hal berbeda. Tetap minta diberikan yang terbaik di setiap doa agar meskipun hasilnya tidak sesuai, at least itu yang terbaik dan doa kita tetap terasa terkabul, guna menghindari suudzon pada-Nya disaat kita sendiri tidak tahu apa yang Dia rencanakan.
People said, usaha tanpa doa adalah sombong, doa tanpa usaha adalah bohong. Mostly true, sometime it’s not. Semua syarat dan ketentuan diatas kadang tidak berlaku untuk yang dicintai-Nya, tapi biasanya mereka sudah mengetahui haknya sehingga tidak akan asal meminta. And again, He knows who He loves, and they’ll never make it as their advantage.
~~~~
I have a story, waktu SD gua pernah minta dibelikan handphone. The funny thing is bokap malah nawarin laptop dengan berbagai pertimbangannya yang tentu gua tolak karena merasa belum butuh, belum ngerti, dan dulu teknologi tidak secanggih sekarang dimana internet merupakan kebutuhan primer. Maka dibelikanlah gua handphone dengan dalih mempermudah komunikasi yang ironisnya, saat itu anak SD ber-handphone bukanlah hal yang lumrah karena memang belum diperlukan.
The other day gua minta Play Station 2 dan bokap lagi-lagi menyarankan beli XBOX 360 yang juga lagi-lagi gua tolak. Alasannya karena teman-teman main PS2 dan XBOX 360 bukanlah console game kekinian saat itu.
Persamaan dari cerita diatas adalah, gua menolak dua hal terbaik dari bokap yang tentunya lebih berpengalaman dan visioner dibanding anaknya. Setelah cukup dewasa dan bisa berpikir logis, bukan tanpa alasan bokap menawarkan pilihan yang nyatanya secara value laptop memang memiliki kelebihan dalam fungsi dan nilai jual. Meskipun gua belum butuh laptop, saat itu pun bokap tahu kalau gua juga belum butuh handphone.
Pun dengan PS2 yang gua pilih karena mainstream. Bokap menyarankan XBOX 360 yang sampai sekarang masih terus memproduksi video game baru dan tentunya lebih menarik dibanding PS2, yang sudah menjadi fosil saat ini. Karena meskipun sama-sama console game, bokap seakan tahu kemajuan zaman dan tidak mementingkan gengsi karena anaknya tidak butuh itu.
Bokap lebih tahu dari gua, tapi bisa jadi dia juga salah. Mungkin baik handphone maupun laptop bukanlah yang terbaik tapi dia memilih untuk memberi yang anaknya inginkan. Tidak dengan Allah, Dia pasti tahu yang terbaik akan what, when and how things should be. Dia juga bukan bokap yang lebih mementingkan short happiness untuk anaknya, karena Allah akan memberi/tidak memberi apapun terlepas itu keinginan kita atau tidak.
Kok gitu, katanya maha pengasih dan penyayang tapi kenapa enggak mempertimbangkan keinginan kita?
Sadar atau tidak, selama ini hidup kita berawal dari keterpaksaan, baik lingkungan maupun diri sendiri. Ketika diturunkan ke bumi, manusia tidak bisa mengatur siapa dirinya, seperti apa orang tuanya, sampai bagaimana dia dibesarkan. Untuk itulah manusia mencari jati diri sambil beradaptasi atas apa yang kita peroleh, lewat pembelajaran akademik seperti sekolah, pengamatan sosial terhadap lingkungan dan adat setempat, serta pengetahuan akan spiritual agama yang diyakini. Semua aspek yang berangkat dari keterpaksaan itu harus dijalani dalam kehidupan dan untuk hidup itu sendiri. Bayangkan apa yang akan terjadi jika kita menolak paksaan menuntut ilmu dan adaptasi sementara bersikap tidak peduli? Chaos.
Kita tidak akan bisa apa-apa, tidak tahu tujuan bahkan arti dari hidup. Ilmu dan pengalaman yang kita paksa telan selama ini adalah yang terbaik bagi orang tua atau siapapun yang membesarkan kita agar setidaknya, kita menjadi manusia yang lebih baik bagi mereka. Lebih baik disisi akademik, sosial, maupun spiritual. Paksaan yang berangkat dari rasa cinta selalu berujung kebaikan selama kita menerimanya dengan baik pula. Tidak serta merta orang tua memaksa kita melakukan yang tidak kita inginkan karena mereka memang sudah hidup lebih dulu dari kita.
Begitupun dengan Allah, He’ll do that too, and always in much better way. Orang tua mungkin salah, karena mereka pun manusia, tapi tidak dengan-Nya. Dia tahu yang terbaik bagi kita, dan akan memberikannya selama kita berusaha. Tinggal bagaimana menanggapi pemberian-Nya akan apa yang kita inginkan/tidak, dan itulah yang disebut ikhlas.
Ikhlas bukanlah menerima apa yang kita miliki tanpa mengupayakan yang ingin kita miliki. Ikhlas adalah menerima yang kita miliki/tidak setelah usaha untuk memiliki hal tersebut. Tidak ada penerimaan tanpa upaya. Apanya yang diterima kalau kita sendiri tidak berusaha? Berharap gaji tanpa bekerja, berujung kelaparan mengatasnamakan ikhlas adalah malas. Usaha pun harus didasari kejujuran, yang berujung kesabaran setelah menerima hasil. Jujur, ikhlas, dan sabar adalah islam. Jujur akan apa yang kita inginkan dan mengusahakannya dengan cara sebaik mungkin, ikhlas akan hasil yang didapat baik sesuai atau tidaknya dengan yang kita harapkan, dan sabar tanpa henti dalam menerima hasil terbaik yang kita pasrahkan.
Seandainya dulu bokap tetap membelikan gua laptop, maka tinggal bagaimana cara menyikapi pemberiannya. Apa gua akan terus mengeluh karena keinginan punya handphone yang tidak terpenuhi? Atau cukup menerima tanpa mencari tahu alasan bokap lebih memilih laptop? Atau memaksimalkan kegunaan laptop karena percaya dengan pemberian bokap yang ingin memberi anaknya yang terbaik? Begitupun dengan-Nya, God would give me a laptop if it’s the best for me, no matter how I’d feel…
….and yep, Ive enjoyed this laptop so much
Note: This is not some random opinion. Banyak sumber baik lisan maupun tulisan (yang terlalu malas dicantumkan mengingat tulisan ini berangkat dari sekian banyak pengalaman, pemikiran dan pembelajaran) yang mendasari post ini. Jika dirasa ada yang kurang atau keliru cenderung sesat, koreksi dan diskusi akan sangat dihargai. Buang yang menurutmu salah, cerna baik-baik yang dianggap benar, karena mungkin masih ada salahnya. Vice Versa.
Nevermind, i write this for myself. Just do anything that’ll fit u regardless what u’ve read.
Comments
Post a Comment